selamat datang di official Blog Paket VIAT untuk Kabupaten Lembata

Quo Vadis Pemuda NTT?




Lagi, momentum duapuluh delapan oktober kita rayakan. Kini di usianya yang ke-82. Kita merayakan lagi sebuah peristiwa sejarah kebangkitan pemuda Indonesia, yang memberi fondasi bagi berdirinya bangunan bersama yang kita sebut Indonesia. Ini gawe nasional, gawe pemuda Indonesia. Mengapa lalu Pemuda NTT? Hendak memiskinkan makna Sumpah Pemuda? Terkesan arogan? Tendensius? Mungkin juga primordial, sukuis, getho, dan lain sebagainya? Tunggu dulu.

Jelas-jelas, memang apa yang hendak dikatakan dalam tulisan ini menunjuk pada Pemuda Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang terentang dari ujung barat Flores hingga Timur, Lembata, Sumba, Timor, dan Alor. Baik yang tinggal di NTT maupun di bagian lain NKRI, bahkan juga dunia internasional. Mereka adalah generasi muda kisaran usia 18 – 35 tahun (merujuk pada ketentuan UU No. 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan). Meraka ada di kampus-kampus bagi mereka yang beruntung bisa mengenyam pendidikkan lanjut. Mereka adalah angkatan kerja produktif, di daerah kelahirannya, di daerah-daerah lain, maupun yang menjadi TKI ke luar negeri (NTT kini menempati peringkat ke-2 pengeskor TKI setelah Jawa Timur). Singkatnya, mereka ada pada rentang usia mahasiswa dan tenaga kerja produktif NTT.

Nah, momentum sejarah Sumpah Pemuda justru hendak dibaca pada konteks NTT sebagai sebuah ruang bersama, di mana para pemuda ini ada dan berasal. Tanpa mengurangi rasa hormat pada nilai kebangsaan dan juga pluralisme, kesadaran akan identitas NTT, patut menjadi pembelajaran bersama. Bagaimana memikirkan bangsa, jika elemen-elemen yang membentuk bangsa sebetulnya ‘rapuh’? Bagaimana berbicara tentang universalitas, jika lokalitas yang menopang universalitas sebenarnya ‘terkoyak-koyak?’ Bangunan lokalitas bernama Pemuda NTT, dengan sendirinya tidak ingin menentang ide besar sebuah bangsa, tidak sedang mengumbar primordialisme, tidak pula sedang membentuk getho, tetapi semata-mata, niat baik untuk membangun rangka-rangka dari sebuah bangunan besar dari bawah. Bayangkan, jika kayu, batu, semen, dan apa pun bahan sebuah bangunan, berasal dari bahan ‘asal-asalan’ saja, maka kualitas bangunan yang dihasilkan pun dengan sendirinya asal-asalan. Demikian sebaliknya. Pada titik inilah tulisan ini ditempatkan. Bagaimana semangat sumpah pemuda merasuki jiwa, akal dan raga para pemuda NTT? Bagaiman dengan semangat yang sama, para pemuda NTT berpikir serius dan matang tentang NTT, darinya muncul kekuatan untuk sumbangsih pembangunan nasional, bahkan internasional? Bagaimana Pemuda NTT membangun dirinya pada akar hakiki identitasnya? Bagaimana Pemuda NTT tumbuh pada kesejatian diri, yang memampukannya bisa bersaing pada level nasional dan bahkan internasional? Bagaimana Pemuda NTT tumbuh sebagai generasi kritis atas arus besar globalisasi dan modernisasi? Bagaimana pula Pemuda NTT menjadi agen perubahan sosial atas silang-sengkarut ruang hidup bersama, bernama NTT? Toh sudah bukan rahasia lagi, kalau NTT, sampai saat ini menjadi sorotan nasional dan internasional, bukan lantaran prestasinya (tanpa menafikan toh ini ada), tetapi justru karena keprihatinan. Sejak tahun 1959, ia resmi berdiri sebagai Provinsi (baru saja kita merayakan usia emasnya), tetapi toh usia emas, tidak memberi kita kemilau, tetapi justru kelabu, jika tidak mau dibilang gelap.

Nah, pada saat yang sama, entah sengaja atau tidak, Pemuda NTT seperti terus dininabobokan atau meninabobokan dirinya. Meraka ikut arus umum, tidak lagi kritis, tidak lagi menjadi kelompok masyarakat yang menentukkan perubahan. Mereka justru tumbuh mekar sebagai generasi pengekor. Para pemuda NTT, meminjam istilah Immanuel Kant, masih tertidur dogmatis; kondisi di mana akal, nalar dan mungkin juga rasa belum tercerahkan. Ini bisa karena bangunan besar dari luar yang secara sengaja menganeksasi melalui upaya-paya terstruktur. Katakan saja liberalisasi ekonomi, modernitas, bantuan-bantuan asing, dan ide import lainnya. Rambut yang tadinya keriting, mati-matian direbonding; karena ide cantik adalah rambut lurus dan kulit putih mulus. Gejala yang hampir umum. Bisa pula kondisi internal, misalnya budaya. Toh budaya, bukan sesuatu yang kodrati sifatnya. Beranikah Pemuda NTT kritis, termasuk juga dengan budayanya?

Singkatnya, Pemuda NTT belum menunjukkan dirinya sebagai kelompok penggerak perubahan, tanpa menafikkan kelompok pemuda atau orang per orang yang sudah mulai bergerak. Tetapi sebagai sebuah gerakan bersama sebagai Pemuda NTT, belum nampak maksimal. Kultur feodal yang begitu melekat, benar-benar membuat energi dan semangat muda itu layu. Pada level kampus, hampir 90 % mahasiswanya memiliki orientasi besar menjadi Pegawai Negeri Sipil, sementara di ruang-ruang diskusi, para mahasiswa ini sering mengeluh kinerja birokrasi NTT yang bobrok. Setiap tahun, ketika dibuka pendafataran untuk mengikuti test Pegawai Negeri Sipil, maka ribuan pemuda antre berlomba-lomba untuk mengisi posisi di birokrasi. Mata rantai itu pun dengan sendirinya akan sulit terputus. Jika bukan menjadi Pastor atau Pendeta, maka pilihan berikutnya adalah PNS, terlepas dari bahwa pilihan-pilihan ini adalah murni sebuah panggilan hati yang patut diapresiasi. Tapi toh, kebanyakan betul-betul karena sebuah pragmatisme, dan bukan karena nilai. Pada aras yang lain, stereotip pemuda NTT yang identik dengan premanisme begitu kuat di tengah masyarakat. Konflik antar preman di Jakarta (Kasus Ampera) baru-baru ini sedikti banyak menunjuk kita pada fakta ini. Akan selamanyakah Para Pemuda NTT dikenal hanya karena dia Pastor, Pendeta, PNS dan juga Preman?

Kondisi NTT yang makin hari, makin terpuruk, sebetulnya membuka mata para pemuda NTT di mana saja berada untuk berada di garis depan perubahan. Pemuda NTT bukan lagi generasi penerus, tetapi mereka adalah generasi penentu, ke mana ruang bersama ini akan dibawa. Terminologi generasi penerus yang digaungkan begitu kuat, toh bisa saja disalahartikan, dengan meneruskan juga korupsi, meneruskan praktek banal kekuasaan, dsb. Saatnya pemuda NTT mengidentifikasi dan mengikrakan diri sebagai generasi penentu.

Harapan menjadi lebih baik selalu ada. Pintu perubahan itu senantiasa terbuka lebar. Pertanyaannya adalah apakah kita mau? Sejarah mencatat, Pemuda NTT di tingkat lokal, nasional dan internasional adalah orang-orang muda yang kritis, kreatif, berkarakter. Mereka adalah aktor perubahan sosial. Mereka ada di jantung-jantung kekuasaan, mereka bergelut bersama warga lingkar tambang, mereka bergelut dengan warga yang akses pendidikkanya minim. Mereka ada di kampus-kampus yang mendidik untuk sungguh-sungguh menjadi manusia. Mereka ada bersama pegiat-pegiat keadilan sosial ekologis. Mereka tumbuh menjadi wirausaha yang sukses. Mereka adalah pribadi-pribadi penentu kebijakan, yang bahkan menjangkau dunia internasional. Fakta bahwa Pemuda NTT sebetulnya mampu. Cuma ia seringkali tumpul atau sengaja ditumpulkan.
Memang jumlah mereka tidak bisa kita bilang banyak, tetapi toh ada. Nah, bagaimana kuantitas yang masih minim saat ini, perlu terus didorong. Bagaimana kuantitas yang minim perlu diperkuat kualitasnya. Lepas dari itu, mereka pun perlu membangun sinergi untuk mengusahakan sebuah gerak perubahan. Sekian lama para pemuda NTT yang kreatif, kritis dan berkarakter terkotak-kotak, saatnya bersatu; membangun gerak bersama. Simpul-simpul gerakan pemuda perlu dibentuk. Pada titik yang sama, toh semua mengarah pada NTT yang lebih baik. NTT yang tidak lagi lapar.

Sebagai generasi muda kritis, pemuda NTT membina dirinya menjadi knowledge producer, yang tidak lagi dan hanya menjadi knowlede consumer. Mereka adalah generasi muda yang punya kepekaan sosial (dalam kata dan tindakan sekaligus). Mereka adalah generasi muda yang mau menjangkau cita-cita dan harapan hidup yang lebih besar. Pemuda NTT adalah kelompok masyarakat yang menjadi garam dan terang di komunitasnya. Pemuda NTT adalah garda terdepan mewujudkan NTT adil dan sejahtera. Pemuda NTT adalah kelompok yang membangun relasi kritis dengan pemerintah, gereja, budaya-budaya lokal, dan arus besar dari luar. Pemuda NTT adalah kelompok di mana keadilan, perdamaian, dan keutuhan lingkungan hidup itu terejawantahkan. Pemuda NTT adalah kelompok pengaruh (positif), dan bukan kelompok yang justru dipengaruhi.

Utang Pemuda NTT yang harus dibayar adalah lingkungan hidup yang kini sudah rusak, anak-anak gizi buruk, anak-anak putus sekolah, kekerasan dalam rumah tangga yang meningkat, angka kematian ibu melahirkan yang tinggi, kinerja birokrat yang lemah, para petani yang terjepit oleh liberalisasi ekonomi, kelompok masyarakat lingkar tambang yang hidupnya sedang terancam, saudara-sadara kita TKI yang dideportasi dan disiksa di luar negeri, dan masih banyak utang lainnya. Waktu ini adalah waktu bagi para pemuda NTT. Silahkan memilih: ambil sebagai kesempatan positif atau tinggal tenggelam pada kondisi tidur dogmatis berkepanjangan?

Thomas H. Suwarta, Sekretaris Jenderal Formadda NTT (Forum Pemuda NTT Penggerak Keadilan dan Perdamaian), Alumnus STF Driyarkara - Jakarta

Source: disini
Read more »

Politisi Muda Kekinian

Zaman semakin maju, perubahan terus berlangsung. Ada dua pilihan yang diperhadapkan, yaitu: bertahan atau terelemisasi dari proses perubahan tersebut. Sejarah dunia telah menunjukkan sering terjadi pergolokkan sosial – kemasyarakatan, antara yang tidak merindukan perubahan (konservatif) dan yang merindukan perubahan (modernisasi).

Sebuah kata bijak mengatakan : “tidak ada yang permanen selain perubahan”. Dan tentu saja saat yang tepat untuk berubah adalah SEKARANG. Itu juga memiliki makna : setiap kali raih peluang! Mungkin ini sekedar akronim. Namun, marilah dibayangkan, betapa berharganya waktu yang telah dilewati. Waktu tidak bisa dibeli dan tidak dapat didaur ulang. Sadar atau tidak, setuju atau tidak, segala sesuatu akan tetap berubah dan terus berubah. Saat ini, mungkin banyak pribadi-pribadi yang terancam kehancuran karena tidak mampu menghadapi perubahan. Goethe, seorang filsuf Jerman berkata, “kita harus senantiasa berubah, memperbaharui, meremajakan diri sendiri. Kalau tidak, kita akan mengeras”.

Suatu perubahan sikap dimulai dari titik perubahan atau pembaharuan cara berpikir. Untuk mengalami terobosan baru dalam pemikiran, diperlukan suatu momentum tertentu. Suatu peristiwa, tantangan, kesulitan atau bahkan bencana sekalipun bisa menjadi sebuah peluang untuk mengalami terobosan dalam pembaharuan pikiran. Menyadari bahwa perubahan terus berlangsung, maka diperlukan adaptasi kepada perubahan tersebut. Hasil berinteraksi dan penyesuaian terhadap perubahan dapat membangun dan menyatukan pola pikir, pola sikap dan pola tindak untuk meneropong masa depan dengan visi. William James seorang psikolog mengatakan, penemuan terbesar di generasi ini ialah bahwa manusia dapat mengubah hidupnya dengan mengubah sikap berpikirnya. Cara berpikir terbentuk dari pengetahuan yang dipelajari dan pengalaman yang dialami.

Masa depan adalah sebuah impian, hari esok merupakan suatu permulaan. Meskipun senantiasa masih mengandung misteri dan seribu tanda tanya. Selagi masih dapat disebut hari esok, itu berarti masih tersedia kesempatan untuk memulai sebuah awal yang baru, suatu langkah yang lebih baik dari kemarin. Memulai momen awal selalu menimbulkan kegairahan tersendiri. Ada tantangan baru dan harapan yang terbesit dalam hati, memenuhi ruang angan-angan.

Proses regenerasi adalah sebuah siklus perubahan. Dari pendahulu kepada pendatang atau dari yang lebih tua kepada yang lebih muda. Timbul pertanyaan?? Siapkah sejumlah keberlanjutan dari perubahan dapat dikerjakan oleh pemuda?? Estafet pada semua lini dan aspek pasti digengam. Antara tanggung jawab dan kemampun seyogianya harus berbanding lurus. Dibutuhkan attitude, science, knowledge, skill yang profesional sehingga terwujud efektifitas, efisiensi dan produktifitas atas sejumlah peran dan tanggung jawab yang diemban dan dikerjakan. pemuda atau pelanjut dan pengisi proses perubahan adalah merupakan sebuah impian. Impian tersebut harus dibangun dalam sikap dan pemikiran visioner. Artinya, sangat dibutuhkan pemuda dengan sejumlah dreams tentang kehidupan masa kini dan yang akan datang. Dari dreams tersebut dapat membentuk struktur pikir yang handal untuk menyatukan ide – konsep – praktis.

Pemuda, baik secara individu atau pula berasosiasi, akan terdistribusi pada panggilan kerjanya. Suka atau tidak suka, ini era generasi muda. Angkatan yang penuh dengan kompetisi. Kesiapan diri melalui pendidikan, pelatihan dan pengembangan lainnya adalah modal dasar. Era kompetitif menuntut adanya kompetensi yang disertai dengan moralitas yang benar dan mentalitas yang kuat. Konstruksi pemikiran pemuda harus dibangun dalam struktur pikir yang terinternalisasi pada diri pemuda. Struktur pikir tersebut berangkat dari sebuah pembentukan integritas diri dan pemahaman ideologi yang komprehensif dan holistik. Agar ada batasan peristilah yang jelas, maka integritas dalam konsepsi sederhana dikatakan bahwa antara perkataan dan tindakan harus ada keserasian. Sedangkan ideologi merupakan ide-ide yang teratur mengenai bermacam-macam masalah politik, ekonomi dan sosial; asas haluan; pandangan hidup.

Ruang dan kesempatan telah ada didepan mata, raihlah! Semua pemuda sedang berada dalam sebuah perlombaan kehidupan dan hampir sebagian pemuda telah terrekrut pada dunia kerja. Realitas dunia kerja menuntut adanya akulturasi pikir dalam frame sebuah institusi atau organisasi. Melihat realita, dunia kerja yang menjanjikan adalah dunia kerja politik. Ada ekspresi, pencitraan sosial, pristise, aktualisasi diri dan juga kompensasi atas jasa yang tinggi nilainya. Terstruktur dari pusat sampai kepada daerah. Lembaga perpolitikan hampir diwarnai dengan perbandingan prosentase berimbang antara pemuda dan pendahulunya. Inilah realitas akulturasi pemikiran, interaksi – komunikasi politik, pengalaman dan kemantangan politik, quasi perpolitikan pada sisi yang lain.

Apapun wujudnya, pemuda tampil sebagai individu-individu yang dituntut meliliki komitmen dan langkah serta berdedikasi sebagai penggerak perubahan. Pemuda dan perpolitikan, harus dipahami dalam etika yang wajar, bahwa politik bukan saja teknik untuk berkuasa, tetapi yang dituntut adalah etika untuk mengabdi. Antara pemuda – ideologi – politik harus diintegrasikan menjadi kekuatan. Belajar dari pengalaman sejarah, Soekarno dulu mampu menggetarkan panggung dunia melalui pemikiran dan pidatonya karana dilandasi ideologi yang tertanam kuat. Begitu juga mahasiswa menumbangkan rezim orde baru karena dilandasi ideologi perjuangan revolusionernya.

Modernisasi telah memaksa adanya lompatan sosial, dari tradisional kepada modern. Adalah fenomena dan realitas sosial yang harus diterima. Pertanyaannya? Sejauhmana transisi yang dibangun untuk menjembatani lompatan kondisi tersebut? Siapakan yang berperan mengkonsolidasikan transisi tersebut?? Berbagai trend kehidupan, seperti pragmatisme, hedonisme, individualisme, dan borjuisme, mungkin dapat merapuhkan kebiasaan-kebiasaan yang original dan tangguh. Sikap dan pemikiran pemuda dapat saja mengalami asimilasi dan mengeser substansi ideologinya.

Para pemuda yang ada dalam dunia politik atau lazim disebut para politisi muda, dapat saja menuai kerapuhan ideologinya. Paradoksial antara ideologi dan efek perubahan dapat memposisikan politisi muda dalam gaya hidup yang glamour? Menikmati dalam aras sederhana, setidaknya aktivitas sosial dalam entitas dan konteks politisi muda. Mungkin saja bukan sebagai entertanier borjuis, tetapi sebagai manusia yang haus harta, tahta dan wanita dan popularitas kelas amatiran yang laten.

Reformasi telah memberi keterbukaan dan kesempatan. Pada area politik, animo pemuda untuk terjun langsung dalam proses perpolitikan penuh dengan antusias. Saling berlomba untuk mencapai target politik dikerjakan baik secara individu tetapi juga dengan berkooperatif. Alhasilnya dapat dilihat pada lembaga legislatif dengan representasi pemuda yang hampir dominan. Ini menandakan bahwa, pemuda bukan menjadi pendukung dan pelengkap dari pelaku politik pendahulu, tetapi pemuda menyadari bahwa terdapat sejumlah potensi yang mampu memberikan kepastian dan keunggulan yang berpihak kepada pemuda. Dalam semangat reformasi tersebut, segala bentuk perubahan harus pelakunya adalah pemuda. Reformasi telah menjadi titik awal kebangkitan pemuda. Afiliasi pemuda dalam dunia politik terstruktur dari pusat sampai daerah, ini dapat memberikan kemungkinan dan juga peluang, pemuda yang berada di daerah dengan sejumlah kwalitas yang handal tidak saja berkompetisi pada wilayah politik lokal, tetapi dapat memberi kemungkinan menjadi kompetitor politik pada wilayah politik nasional.

Wujud reformasi yang lain, telah memberikan warna dan konfigurasi politik yang tidak bias gender. Ada pemerataan dan kesempatan yang sama diberi kepada perempuan untuk terlibat dalam proses politik dan berani mengaktulisasi diri. Regulasi yang diberlakukan memberikan penegasan sehingga menjamin perempuan untuk berada dalam ruang politik dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses politik. Tidak dipungkiri “tabu” politik menjadi steriotip kepada perempuan. Dalam kurun waktu yang lama perpolitikan mengalami bias gender dan perempuan hanya menjadi penyumbang suaru kepada lelaki. Reformasi yang diawaki oleh pemuda telah berimplikasi langsung kepada perempuan.

Perempuan dari segi kwalitas hampir setara dengan lelaki. Namun berbanding terbalik dengan kwantitas, bahwa perempuan mendominasi sebagai konstituen. Dari regulasi yang ada, institusi politik telah menjadi warna yang berbeda dengan adanya keterwakilan perempuan. Diharapkan bahwa ada sebuah pemahaman dan kesadaran konstituen dalam menentukan pilihan politiknya dan tidak menjadi anggapan keterwakilan perempuan hanya merupakan pelengkap dari pemberlakuan aturan.

Perempuan dan politik dapat dikatakan memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Seperti sedang dilakukan niaga politik dan telah terlihat hasilnya, keterwakilan perempuan pada lembaga legislatif perlahan namun pasti mampu memberikan keyakinan dan pengaruh sehingga mendapat apresiasi tinggi dari publik. Artinya perempuan telah turut terproses dengan baik. berawal dari kemampuan membuka keterisolasian dan kesiapan diri, didukung dengan kemampuan pikir dan dinyatakan dalam tindakan untuk mempengaruhi agar mendapat dukungan serta legitimasi. Ada skeptis, bahwa perempuan belum teruji dalam perpolitikan. Menjawab hal tersebut harus dilalui dengan kerja dan peran yang mampu memposisikan perempuan sebagai corong komunikasi yang tangguh dengan sejumlah pemikiran-pemikiran yang dapat diterima dan diyakini oleh publik.

Akhirnya diketahui, bahwa lembaga legislatif didominasi oleh politisi muda. Ada sejumlah harapan ditujukan kepada politisi muda, bahwa dengan didukung semangat muda, sikap kritis, tidak terkontaminasi dan idealis, para politisi muda mampu menjadi pilar terdepan memberikan keteladanan ideologi yang mampu merubah cara pandang dalam dunia perpolitikan. Upaya mewujudkan kedewasaan (marture) dalam berpolitik adalah merupakan sebuah harapan bersama yang dinantikan dan dialami oleh publik. Setiap kompetisi politik dari pra – pasca – sesudah diharapkan dan harus diperlihatkan penuh dengan sikap kedewasaan. Pilihan politik selalu ada dan pasti berbeda, namun perbedaan tersebut tidak mesti dibedakan dalam sikap dan tindakan politik seperti pematian karakter, membatasi ruang dan pergerakan politik, menutupi akses politik, teror dan intimidasi. Beberapa hal yang disebutkan pernah menjadi kebiasaan politik sehingga membuat wajah perpolitikan jauh dari sikap kedewasaan. Perubahan yang berlangsung, telah mendorong terwujudnya cara pandang politik dengan kesantunan dan beretika. Politisi muda menjadi pilar terdepan dengan sejumlah kekuatan mendorong pentahapan politik dari delitimasi terhadap resim yang berkuasa – konsolidasi – transisi – kedewasaan (marture). Pengaruh mempengaruhi harus mampu diterjemahkan dalam rangka mengaktulisasi nilai-nilai substantif sehingga mampu mengalihkan mindset publik melalui pikir, sikap dan tindakan politik yang baru dengan lebih rasional persuasif.

Realitas kekiniaan, menunjukkan bahwa hampir sebagian politis muda terjebak dalam pemikiran sempit dan mengalami kecenderungan dis – orientasi nilai, kelabilan sikap dan tindakan, serta belum siap. Realitas peradaban tidak didukung dengan ketanguhan diri politisi muda. Modernisasi seharusnya dimaknai secara menyeluruh dan objektif. Kesalahan-kesalahan masa sebelumnya masih terus terulang. Partai politik sebagai media penyalur politisi hampir dapat dikatakan GAGAL dalam perspektif komparasi untuk mengkontribusikan kader dengan kwalitas terbaik. Pada internal partai politik masih dibenturkan antara kultur lama (etika) dengan kompetensi yang datang karena efek perubahan. Partai politik hanya terlihat perannya, ketika ada deklarasi partai politik, HUT partai politik dan memontum politik. Hal ini mungkin saja dibenarkan dari sudut pandang lain atau juga bagian dari pola masa lalu.

Tuntutan masa kini dan yang akan datang, bahwasannya partai politik harus menjadi institusi kuat, solid dan mampu melakukan perampingan struktur dengan asumsi miskin struktur dan kaya fungsi. bahwa struktur tersebut harus lebih efektif, dinamis membaca dan beradaptasi dengan tuntutan yang diakibatkan dari sebuah perubahan. Sebagai bagian dari masyarakat, partai politik juga diharapkan mampu merencakan dan merealisasikan berbagai program dan kegiatan yang menyentuh langsung dengan kebutuhan. Sebagai contoh, partai demokrat tampil sebagai partai pertama yang memodernisasi diri dengan mendorong pemuda menjadi public figur, public speaking dan public relation. Ini pembelajaran nyata dan sedapat mungkin memberikan pengaruh langsung kepada partai-partai politik lainnya.

Setidaknya ada pembudayaan baru. Partai politik tampil sebagai institusi dengan semangat perubahan yang dilandaskan kepada visi dan kompetensi. Memposisikan pemuda sebagai wujud alih generasi kepemimpinan adalah dampak nyata modernisasi tersebut. Disamping itu pula partai politik harus bertanggung jawab menjadi penyalur kaderisasi pemuda dalam perpolitikan dengan sejumlah kesiapan yang tangguh dan memadai. Politisi muda yang diharapkan adalah politisi muda yang tidak kehilangan identitas dirinya karena sebuah asimilasi, tetapi politisi muda yang diharapkan adalah politisi muda yang memiliki karaktek dan profesionalisme. Karakter yang dimaksudkan adalah karekter sebagai kekuatan, landasan, dan sebuah jaminan. Sedangkan profesionalisme yang dimaksudkan adalah berdisiplin, berakuntabilitas, beretika dan memiliki kompetensi. Kesatuan nilai ini harus terinternalisasi pada politis muda, sehingga dapat sukses dan tahan uji dalam masa transisi menuju kepastian masa datang.**

Oleh Muhammad Rifai Darus, SH
(Ketua DPD KNPI Provinsi Papua)
Read more »

Profil Kabupaten Lembata




Sejarah
Nama Lembata sebagai salah satu nama dari gugus kepulauan di Kabupaten Flores Timur sudah memasyarakat sejak tahun 1965. Tetapi sebelum dikenal dengan nama Lembata, dahulu pada masa pemerintahan Hindia Belanda hingga kini dikenal dalam peta Indonesia dengan nama "Pulau Lomblen". Pada tanggal 24 Juni 1967 dilaksanakan Musyawarah Kerja Luar Biasa Panitia Pembentukan Kabupaten Lembata yang diselenggarakan di Lewoleba yang kemudian mengukuhkan nama Lembata. Pengukuhan nama "Lembata" ini sesuai sejarah asal masyarakatnya dari pulau "Lepanbatan", sehingga mulai 01 Juli 1967 sebutan untuk penduduk yang semula "Orang Lomblen" berubah menjadi "Orang Lembata".

Rencana ke arah terbentuknya Kabupaten Lembata bertolak pada 2 (Dua) Pernyataan / Statement, yaitu :
1. Pernyataan / Statement 7 Maret 1954.
2. Pernyataan / Memorandum 7 Maret 1999.
3. Memorandum 7 Maret 1999 sebagai cikal bakal berdirinya kabupaten Lembata yang terpisah dari kabupaten induk Flores Timur, dan tahun 1999 dikenal sebagai hari lahir atau berdirinya kabupaten Lembata.

• Ibukota kabupaten Lembata: Lewoleba
Batas wilayah :
o Sebelah timur : Selat Alor
o Sebelah barat : Selat Boleng dan Lamakera
o Sebelah Utara : Laut Flores
o Sebelah Selatan : Laut Sawu

• Kondisi Umum
o Letak geografis : Lembata adalah sebuah pulau gugusan kepulauan Solor yang terletak dalam Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Alor.
Secara astronomis Lembata terletak pada posisi : 8°10' - 8°11' LS dan 123°12' - 123°57' BT. Dengan luas wilayah 1266,48 km² atau 126.648 ha.

o Kondisi geografis : Secara geografis Pulau Lembata terletak di sebelah timur pulau Flores. Lembata adalah sebuah pulau gugusan kepulauan Solor yang terletak dalam Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Alor.

o Kondisi demokrafis : Jumlah penduduk Kabupaten Lembata berdasarkan data tahun 2004 tercatat sebanyak ± 101.392 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 0,31% per tahun dengan kepadatan mencapai 68 jiwa/km². Mata Pencaharian dari masyarakat atau penduduk Lembata mayoritas adalan bertani sebanyak 74%, sisanya terdiri dari PNS, Pensiunan, Pengusaha, Pedagang, Buruh, Pengrajin, TNI/POLRI dan Alim Ulama atau Biarawan/ti. Sementara pendapatan per kapita penduduk Lembata rata-rata per tahun Rp. 497.685,00 pada tahun 1998.

Jumlah penduduk : 106.312 jiwa (NTT dalam angka 2009)
 Laki-laki : 49.239 jiwa
 Perempuan : 57.073 jiwa



o Kondisi ekonomi : Dari luas daratan 126,684 ha itu, 71,46 ha diperuntukkan bagi pengembangan kawasan pemukiman dan budi daya non pertanian, sedangkan sisanya seluas 55,202 ha diperuntukkan bagi pengembangan potensi pertanian seperti jagung, kacang-kacangan, ubi-ubian, sayur-sayuran dan buah-buahan. Dalam dua tahun terakhir ini telah diupayakan penanaman berbagai tanaman komoditi perdagangan seperti : kelapa, kemiri, kopi, jambu mete, coklat, cengkeh, vanili, pala, kapuk dan pinang. Di sisi lain bidang peternakan memberi potensi pengembangan yang cukup baik karena Kabupaten Lembata memiliki padang rumput atau padang penggembalaan yang cukup luas terutama di Kecamatan Ile Ape.

o Iklim : Iklim di Lembata tergolong kering dengan curah hujan rata-rata 001,95 mm pertahun atau 230 mm tertinggi pada Bulan Maret dan 14 mm terendah pada Bulan Mei. Suhu udara rata-rata 26°C - 29°C dengan suhu minimum dan maksimum berkisar antara 23°C - 30°C. Sedangkan kecepatan angin tergolong rendah rata-rata hanya 8,4 knot/jam.

• Wilayah administrasi
o Jumlah kecamatan : 9 Kecamatan
o Nama-nama kecamatan : Buyasuri, Omesuri, Lebatukan, Ile Ape, Ile Ape Timur, Nubatukan, Atadei, Nagawutung, Wulandoni
o Jumlah kelurahan : 7 Kelurahan
o Nama-nama kelurahan : Lewoleba Barat, Lewoleba, Lewoleba Tengah, Lewoleba Utara, Lewoleba Timur, Selandorom, Lewoleba Selatan
o Jumlah desa : 137 Desa

• Produk unggulan :
1. Pertanian : kelapa, kemiri, kopi, jambu mete, coklat, cengkeh, vanili, pala, kapuk dan pinang
2. Perikanan dan Kelautan: Ikan tongkol, cakalang, Tuna dan lain-lain. Sedangkan jenis non ikan seperti kerang mutiara di Teluk Lewoleba dan Waienga, cumi-cumi, lola, teripang, batu laga, japing-japing dan nener juga sangat potensial.
3. Pertambangan : Minyak Bumi di Kecamatan Nagawutung, Barit, emas, timah hitam, perak, nikel, mangan, tembaga, serta pasir besi di Kecamatan Lebatukan, Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Buyasuri, Belerang di Kecamatan Ile Ape, Gas Alam di Kecamatan Atadei dan Kecamatan Omesuri.

• Transportasi
o Darat :
o Laut : Fery : Kupang - Lewoleba (setiap hari Senin),
o Motor Laut : Larantuka - Lewoleba (setiap hari PP)
o Udara : Bandara Lewoleba
Trans Nusa Air Lines
Tiga kali seminggu Kupang - Lewoleba
(setiap hari Selasa, kamis dan sabtu PP).

Objek Wisata
1. Pulau Pasir Putih Awelolong
2. Gua Maria Lewoleba
3. Pantai Rekreasi Pasir Putih Waijarang
4. Sumber Air Panas Sabu Tobo
5. Sumber Gas Alam Karun Watuwawer
6. Pantai Rekreasi Tanah Treket
7. Budaya Tradisional Penangkapan Ikan Paus di Desa Lamalera
8. Rumah Adat dan Ritus Pesta Kacang Jontona
9. Pantai Pasir Putih Mingar
10. Pantai Lewolein
11. Air Terjun Atawuwur
12. Pantai Pasir Putih Bean

Demikian profil singkat kabupaten Lembata, menjadi gambaran umum kepada semua pihak.
Read more »

‘Mengukur Keberhasilan Pembangunan Daerah’ (Koreksi pinggiran Kabupaten Lembata)




Oleh: Akhmad Bumi

Untuk menilai keberhasilan pembangunan, ada syarat yang diperlukan untuk mengukur atau menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan. Syarat itu harus dimulai dari tingkat pemahaman semua komponen terkait indikator-indikator/variabel-variabel pembangunan serta pengertian penerapan kebijakan dan hasil dari proses pelaksanaan kebijakan.

Pemahaman memadai tentang indikator pembangunan, menunjukan semakin terarah pelaksanaan pembangunan dan semakin tingginya responsif masyarakat dalam menyukseskan dan mencapai sasaran yang ditargetkan dari progres yang ada.
Terkait indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan (pembangunan), dianggap perlu mendapatkan perhatian semua pihak terutama dari pihak pengambil keputusan. Bacaan dan analisis kita tentang kabupaten Lembata, yang sudah lebih dari satu dekade pisah dengan induknya Flores Timur sejak tahun 1999, perlu mendapat perhatian dari semua komponen. Karena persentase keberadaan daerah ini belum beranjak dari starting point, sejak kita berotonomi hingga sekarang.

Coretan ini sekedar dimaksudkan untuk menguraikan sekelumit indikator dan variabel yang terkadang dilupakan oleh banyak kalangan serta kebijakan ekonomi daerah diikuti dengan sekelumit uraian.

Pengertian Pembangunan
Pengertian pembangunan harus dilihat secara dinamis, bukan dilihat sebagai konsep statis yang selama ini sering kita anggap sebagai suatu kesalahan yang wajar. Pembangunan pada dasarnya adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. ” Development is not a static concept. It is continuously changing“.Artinya juga bisa dikatakan bahwa pembangunan itu sebagai “never ending goal”.

Proses pembangunan, merupakan suatu perubahan sosial budaya. Pembangunan agar menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya. Jadi bukan hanya yang dikonsepsikan sebagai usaha untuk mengejar pertumbuhan ekonomi belaka. Pembangunan tergantung dari suatu innerwill, proses emansipasi diri dan suatu partisipasi kreatif dari semua kalangan menuju pada pembaharuan segala aspek.

Lembata adalah baru dalam kabupaten, yang dimekarkan dan terpisah dari kabupen induk Flores Timur ini, secara umum sedang melakukan proses perubahan-perubahan sosial didalamnya. Proses atau usaha perubahan sosial tersebut dapat berarti suatu proses dan usaha pembangunan yang sedang berjalan. Pada pokoknya suatu usaha perubahan dan pembangunan dari suatu keadaan atau kondisi masyarakat yang dianggap lebih baik dan lebih diinginkan. Artinya ada perubahan dari yang ada sekarang dengan segala kekurangannya menjadi lebih baik, minimal ada “progress” dari kondisi yang sekarang ini.

Perubahan-perubahan dalam masyarakat yang bersifat menyeluruh, dapat dikembangkan secara sadar oleh pemerintah, yang sebaiknya mewakili kekuatan-kekuatan pembaharuan yang ada dalam masyarakat. Hal ini sesuai paradigma yang diinginkan yaitu paradigma pembangunan yang partisipatif yang lebih mengarah kepada aspirasi dari akar rumput.
Tetapi pada akhirnya, agar perubahan-perubahan itu mempunyai kemampuan berkembang yang dinamis, perlu diperhatikan agar proses tersebut didukung dan dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pembaharuan yang timbul dan bergerak dalam masyarakat daerah. Hal ini penting, misalnya; agar jangan sampai proyek pembangunan jalan di lokasi/desa terpencil tapi hanya pernah dilalui oleh mobil, yang bertugas mengantarkan material ke desa tersebut karena proyek, tapi bukan menjadi sarana transportasi yang memudahkan masyarakat menyalurkan hasil produksinya ke pasar (mobilisasi barang dan manusia).

Diakui bahwa, kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat relatif masih lemah. Kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat ini disebut “autonomous energies“. Demikianpula usaha untuk menyalurkan dan mengarahkan berbagai kepentingan dan tuntutan yang sering bertentangan didalam masyarakat dalam rangka kepentingan daerah dan kepentingan pembangunan yang menyeluruh. Pembangunan itu meliputi perubahan-perubahan sosial yang besar. Hal tersebut seringkali mengakibatkan adanya frustasi, alienasi, kegoncangan dalam identitas dan lain-lain bagi sebagian masyarakat dan pemangku kepentingan karena bertubrukan dengan nilai yang dianggap contra produktif.

Setiap orang bisa saja mengartikan istilah pembangunan secara berbeda sesuai dengan selera masing-masing, sehingga pada akhirnya definisi tentang pembangunanpun sedemikian banyak dan berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, kita perlu memastikan terlebih dahulu perspektif inti atas makna dasar pembangunan. Tanpa adanya suatu perspektif dan kriteria yang dapat disepakati bersama, kita tidak akan bisa mengetahui mana saja yang telah mengalami pembangunan dan mana yang tidak.

Hal ini dimaksudkan agar terdapat satu persepsi yang sama terhadap sesuatu yang kalau dalam bahasa penelitian ilmiah harus valid dan reliabel. Intinya, indikator diperlukan agar kita bisa mengukur kejelasan dari pembangunan itu dan terarah sesuai dengan persepsi yang dianut, kemudian itu menjadi sistem dan sistem menjadi instrumen kunci dalam pembangunan.

Pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar, struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi sosial, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan serta pengentasan kemiskinan. Pada hakekatnya, pembangunan itu harus mencerminkan terjadinya perubahan secara total suatu masyarakat atau penyesuaian system sosial secara keseluruhan, tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual maupun kelompok-kelompok sosial yang ada didalamnya, untuk bergerak maju menuju suatu kondisi kehidupan yang serba lebih baik.

Pada umumnya dari draf konsep yang disajikan atau dari kebijakan-kebijakan daerah yang terbaca (Lembata), pembangunan daerah dipusatkan pada pembangunan ekonomi melalui usaha pertumbuhan ekonomi daerah belaka. Oleh karena itu, tidak salah jika paradigma tradisional mengenai pola pembangunan cenderung mengidentikkan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi, lupa akan identitas sosial serta struktur-struktur yang telah terbangun selama ini. Jauh sebelum bangsa ini merdeka, leluhur kita sudah hidup dan bisa makan serta kehidupan mereka tidak ditopang oleh suatu kualifikasi pendidikan yang tinggi dan merata. Artinya, tatatan kehidupan masyarakat kita sudah memiliki sumber daya baik manusia maupun alam tanpa harus dimusnahkan tapi konsep pemberdayaan yang perlu dikemangkan.

Olehnya itu, pembangunan ekonomi yang dimaksud adalah mengembangkan/ memberdayakan sumber daya yang telah ada dalam sebuah institusi masyarakat, bukan melepaskan sturktur-struktur sosial yang telah ada dengan alasan karena kita membangun, toh akhirnya yang dituju adalah proses peningkatan output jangka panjang dari warga yang kita bangun dengan varian pola dan keijakan daerah. Yang dimaksud dengan proses adalah berlangsungnya kekuatan-kekuatan tertentu yang saling berkaitan dan mempengaruhi, antara pemerintah dan rakyat atau antar kekuatan didalam masyarakat itu sendiri.

Dengan demikian ekonomi pembangunan yang lebih pada memacu pertumbuhan ekonomi, hendaknya diikuti dengan proses perubahan non ekonomis didalamnya (growth plus change) misalnya titik orentasi kita adalah pada perubahan struktur ekonomi; dari pertanian ke industri atau jasa, atau perubahan kelembagaan atau reformasi kelembagaan, tapi juga harus memberikan perhatian besar kepada formulasi kebijakan publik yang sebaik-baiknya demi menghadirkan serangkaian transformasi ekonomi, sosial, dan institusional yang sekiranya dapat berdampak positif terhadap kondisi masyarakat secara keseluruhan.

Olehnya itu proses pembangunan yang menuju pada perubahan mendasar dilaksanakan tidak dilakukan hanya secepat membalik telapak tangan, tetapi dimulai dari proses yang panjang dan lama sesuai tahapan; jangka pendek (1tahun), jangka menengah (5tahun) dan jangka panjang (25tahun).

Orentasi mengejar pertumbuhan ekonomi dengan penekanan pada pendapatan daerah riil (GNP pada tingkat harga konstan) sekalipun meningkat pada catatan statistik tapi terkadang tidak diikuti dengan perbaikan kualitas hidup masyarakat atau bahkan kualitas hidup masyarakat justru menurun. Catatan negatifnya adalah, jika pertumbuhan penduduk melebihi atau sama dengan pertumbuhan pendapatan daerah rata-rata maka pendapatan perkapita bisa menurun atau tidak mengalami perubahan sama sekali, tidak bisa dikatakan naik. Jika demikian maka apakah dapat disebut bahwa ada pembangunan ekonomi di daerah tersebut?.

Perekonomian Lembata
Penyajian data yang kurang akurat bahkan validitas datanya meragukan membuat siapa saja akan melenceng dari analisis-analisisnya. Di Lembata penyajian data cendrung tidak konsisten, berubah dari waktu ke waktu dari sebuah obyek dan tahun yang sama. Padahal kita sudah lebih dari sepuluh tahun ber-otonomi, sebuah kurun waktu yang terbilang cukup. Kurang lebih lima belas tahun lagi kita harus tinggal landas, tapi apa yang mau bergeser dari istilah tinggal landas itu?

Tahapan-tahapan pembangunan memang merupakan awal dari proses pembangunan, tapi fokus kita harus terarah, agar penilaian bukan sekedar pengamatan politik yang hanya sifatnya simbolis itu tapi substansinya perlu dipertegas. Disinilah letak kaburnya esensi pembangunan di Lembata yang arah geraknya tidak memiliki konsep dan skenario yang terarah. Padahal tugas yang paling berat adalah menjaga sustainabilitas pembangunan dalam jangka yang lebih panjang. Karena arahnya begitu kabur, maka siapapun yang bakal memimpin Lembata ini harus memulai dari dasar kembali, jika tidak maka eksistensi pembangunan kedepan akan menjadi lebih kabur dari sekarang.

Cita-cita kita adalah Lembata minimal selevel dengan daerah lain yang sudah maju, tapi tanpa arah kita membangun, tanpa komitmen dan kejelasan indikator yang terukur kita akan sulit untuk mensejajarkan diri dengan daerah lain yang sudah maju baik ditingkat lokal maupun regional.

Ekonomi pembangunan selain mengulas soal alokasi sumberdaya yang seefisien dan pertumbuhan output agregat secara berkesinambungan dari waktu ke waktu, ekonomi pembangunan juga perlu menitik-beratkan perhatiannya pada berbagai mekanisme ekonomis, sosial dan institusional yang harus diciptakan demi meningkatnya standar hidup penduduk miskin yang sedang berkembang saat ini.

Oleh karena itu, setiap analisis yang realistis terhadap masalah-masalah pembangunan perlu ditopang dengan variabel-variabel/indikator-indikator, baik itu variabel ekonomi maupun non ekonomi sebagai tolok ukur keberhasilan.

Indikator-indikator kunci dapat kita lihat pada 2 indikator inti yakni; 1) Indikator Ekonomi dan 2) indikator Sosial. Indikator ekonomi lebih menitikberat pada angka pendapatan perkapitanya, sedangkan indikator sosial lebih berfokus pada aspek non-ekonomis seperti usia harapan hidup, tingkat kematian bayi dan capaian pendidikan.

Makna Pembangunan
Seperti yang disinggung, dalam konsep berjalan pembangunan identik dengan upaya meningkatkan pendapatan perkapita atau disebut strategi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Dengan ditingkatkan pendapatan perkapita masalah-masalah seperti pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan dapat terpecahkan, misalnya melalui apa yang dikenal dengan istilah “trickle down effect” (efek penetesan kebawah). Indikator berhasil tidaknya pembangunan semata-mata dilihat dari meningkatnya pendapatan perkapita.

Tapi ketika banyak daerah-daerah berhasil mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun gagal memperbaiki taraf hidup penduduknya, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam memaknai pembangunan yang dianut. Olehnya itu pendapatan perkapita (GNP) sebagai indikator/variabel tunggal atas terciptanya kemakmuran atau pembangunan itu identik hanya sekedar pertumbuhan ekonomi menjadi terbatahkan.
Simulasi 2 indikator, baik indikator ekonomi maupun sosial mendorong kita semakin selektif dengan berbagai kebijakan yang diterapkan. Mempertimbangkan untuk mengubah strategi dan pola pembangunan guna mengatasi secara langsung berbagai masalah yang dihadapi di daerah.

Olehnya itu, pembangunan ekonomi harus mengalami redefinisi. Pembangunan ekonomi tidak lagi memuja GNP sebagai sasaran pembangunan, namun lebih memusatkan perhatian pada kualitas dari proses pembangunan dengan melihat juga secara mendalam aspek non ekonomisnya. Variabel-variabel ekonomi yang ketat seperti halnya angka kepadatan penduduk juga harga-harga menjadi penting jika variabel non ekonomis seperti faktor institusi non-ekonomi seperti pengaturan hak pemanfaatan tanah, pengaruh stratifikasi sosial dan kelas, struktur perkreditan, pendidikan dan beberapa variabel lainnya menjadi penting yang sama.

Dengan itu, pembangunan akan dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat dan institusi-institusi yang ada, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan serta pengentasan kemiskinan.

Jadi pada hakekatnya, pembangunan itu harus mencerminkan perubahan total suatu masyarakat atau penyesuaian system sosial secara keseluruhan, tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual maupun kelompok-kelompok sosial yang ada didalamnya untuk bergerak maju menuju suatu kondisi kehidupan yang serba “lebih baik” atau secara material maupun spiritual.

Olehnya itu pembangunan ekonomi yang berusaha untuk meningkatkan output, menciptakan lapangan kerja dan mengentaskan kemiskinan seringkali gagal di masa lalu hanya karena para perumus kebijakan lupa bahwa perekonomian daerah merupakan suatu system sosial yang utuh, yang terdiri dari kekuatan-kekuatan ekonomi dan non-ekonomis yang satu sama lain saling bergantung. Segenap kekuatan itu selalu berinteraksi, terkadang saling menunjang tapi tidak jarang pula bersifat kontradiktif.**
Read more »

 
Cheap Web Hosting | Top Web Hosts | Great HTML Templates from easytemplates.com.